Tetap "Exist" Di Tengah Krisis

Salam sungkem Abah Sabrang Alam. Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman yang saya alami. Semoga cerita saya dapat dijadikan hikmah bagi teman-teman semua.

Perkenalkan, nama saya Agus Susilo. Saya seorang pengusaha mebel. Dua tahun terakhir ini permintaan mebel di kota saya mengalami penurunan. Bukan karena kualitas yang menurun, namun karena ketersediaan bahan baku yang cukup sulit dicari. Jika pun ada, harga kayu cenderung melambung tinggi. Selain itu, menurunnya minat masyarakat terhadap mebel juga menjadi penyebab penurunan produksi mebel akhir-akhir ini. Bahkan, banyak pengusaha-pengusaha mebel kecil yang terpaksa gulung tikar akibat kondisi tersebut. Situasi ini diperparah dengan merebaknya kasus penipuan yang dilakukan oleh buyers-buyers luar negri. Untuk kasus yang satu ini, saya juga merupakan salah satu korbannya.

Kejadian tersebut terjadi pertengahan Juli 2011 lalu. Saat itu saya kena tipu hampir mencapai 4 Milyar. Setelah kejadian tersebut, saya seakan-akan sudah tidak mampu meneruskan usaha mebel yang telah saya geluti bertahun-tahun itu. Untuk menggaji karyawan saya saja sulit. Banyak karyawan yang terpaksa saya berhentikan. Belum lagi harga bahan baku yang naik. Saya nyaris gila karena kondisi tersebut. Namun istri saya terus menyemangati saya. Dia ikut berusaha kesana kemari mencari kenalan yang mau menolong usaha saya.

Saya berada dalam kondisi terpuruk selama hampir 2 bulan sebelum bertemu dengan Abah Sabrang Alam. Saya mengetahui Abah Sabrang Alam dari kenalan istri saya. Kenalan istri saya bilang ke saya, "Sebagai bentuk dari  ikhtiyar, Pak. Siapa tahu Beliaunya dapat menolong. Tidak ada salahnya Bapak berkonsultasi dengan beliau." Akhirnya saya menemui Abah Sabrang Alam bersama istri saya.

Setelah bertemu dan berkonsultasi dengan Abah Sabrang Alam, saya dan istri memutuskan untuk memahar jimat penglarisan. Saya tempatkan jimat tersebut di showroom saya. Saya berusaha membangun usaha saya mulai dari nol. Ajaibnya, hari demi hari saya mendapat pesanan yang semakin meningkat. Pegawai saya yang tadinya cuma bertahan 7 orang, sekarang jauh melebihi sebelumnya. Sekarang, baru beberapa bulan berlalu, omset penjualan saya sudah mampu menyamai omset penjualan sebelum kena tipu.

Agus Susilo, Pekanbaru